Thursday, January 26, 2012

Skripsi Hukum tentang pelanggaran lalu-lintas

     Kali ini blog Naruto vs Onepiece akan berbagi Skripsi Hukum tentang pelanggaran lalu lintas yang di lakukan oleh anak sekolah. Mungkin bagi sobat Blogger yang akan melaksanakan ujian Skripsi Hukum tentang pelanggaran lalu lintas yang di lakukan oleh anak sekolah. Dalam blog ini anda juga dapat melihat-lihat skripsi hukum yang lainnya seperti Skripsi Hukum tentang tindak pidana penyalahgunaan Narkoba dan Skripsi hukum upaya pencegahan Miras (minuman keras) dan dampaknya. Di sini saya cuma memberi sedikit referensi kepada anda, agar anda mempunyai gambaran Skripsi Hukum yang akan anda buat. Mungkin saya cuma memberikan Bab 1 dari skripsi ini. Apabila anda menginginkan secara komplit, anda bisa Download pada link download di bawah postingan ini.

1.     Permasalahan : Latar Belakang Dan Rumusannya
Pembangunan dan perkembangan ilmu dan teknologi yang sangat pesat, mengakibatkan manusia dapat hidup lebih tentram. Akan tetapi di sisi lain terdapat pengaruh tertentu yang mengakibatkan terjadinya gangguan terhadap ketentraman kehidupan manusia. Kenyataan menunjukkan betapa banyaknya kecelakaan lalu lintas terjadi setiap hari yang mengakibatkan matinya manusia, cideranya manusia dan kerugian secara material.
Penyebabnya berkisar pada faktor – faktor seperti pengemudi maupun pemakai jalan yang lainnya, konstruksi jalan yang kurang baik, kendaraan yang tidak memenuhi syarat, rambu – rambu lalu lintas yang tidak jelas, dan lain sebagainya. Jalan raya, misalnya, merupakan suatu sarana bagi manusia untuk mengadakan hubungan antar tempat, dengan mempergunakan pelbagai jenis kendaraan baik yang bermotor maupun tidak. Jalan raya mempunyai peranan penting dalam bidang ekonomi, politik, sosial – budaya , pertahanan – keamanan  dan hukum, serta dipergunakan untuk sebesar – besarnya kemakmuran rakyat.
Pihak – pihak yang bertanggungjawab atas keselamatan penggunaan jalan raya telah berusaha sekuat tenaga untuk menanggulangi kecelakaan lalu lintas. “Berbagai peraturan telah disusun dan diterapkan yang disertai dengan penyuluhan, kualitas kendaraan dan jalan raya ditingkatkan, serta bermacam – macam kegiatan dilakukan untuk menjaga jangan sampai jatuh korban maupun kemerosotan materi”.1
Tinjauan utama dari peraturan lalu lintas adalah untuk mempertinggi mutu kelancaran dan keamanan dari semua lalu lintas di jalan – jalan. Identifikasi masalah – masalah yang dihadapi di jalan raya berkisar pada lalu lintas. Masalah – masalah lalu lintas, secara konvensional berkisar pada kemacetan lalu lintas, pelanggaran lalu lintas, kecelakaan lalu lintas, kesabaran dan pencemaran lingkungan. Keadaan kemacetan lalu lintas berarti hambatan proses atau gerak pemakai jalan yang terjadi di suatu tempat. Hambatan dapat terjadi dalam batas-batas yang wajar; namun mungkin dalam batas waktu yang relatif pendek. Di samping itu mungkin gerakan kendaraan berhenti sama sekali atau mandeg.
Aparat penegak hukum (polisi lalu lintas) berperan sebagai pencegah (politie toezicht) dan sebagai penindak (politie dwang) dalam fungsi politik. “Di samping itu polisi lalu lintas juga melakukan fungsi regeling (misalnya, pengaturan tentang kewajiban bagi kendaraan bermotor tertentu untuk melengkapi dengan segi tiga pengaman) dan fungsi bestuur khususnya dalam hal perizinan atau begunstiging (misalnya, mengeluarkan Surat Izin Mengemudi)”.2 Mengendarai kendaraan secara kurang hati – hati dan melebihi kecepatan maksimal, tampaknya merupakan suatu perilaku yang bersifat kurang matang.

    Walau demikian kebanyakan pengemudi menyadari akan bahaya yang dihadapi apabila mengendarai kendaraan dengan melebihi kecepatan maksimal tersebut. Akan tetapi di dalam kenyataannya tidak sedikit pengemudi yang melakukan hal itu. Di dalam menghadapi konflik, maka seseorang biasanya melakukan apa yang disebut displacement yang berwujud sebagai pengalihan sasaran perilaku agresif. Kekhawatiran timbul sebagai akibat dari perasaan akan adanya bahaya dari luar, yang kadang – kadang hanya merupakan anggapan saja dari yang bersangkutan. Tidak jarang manusia mempergunakan mekanisme pertahanannya untuk mengatasi rasa khawatirnya itu, seperti misalnya acting out yakni individu yang bersangkutan melakukan tindakan – tindakan impulsif. Perilaku semacam ini dapat terjadi pada pengemudi, yang kemudian mengendarai kendaraannya secara membabi buta.
Hal-hal yang dikemukakan di atas, merupakan ciri – ciri mental manusia yang sedang mengalami tekanan tidak jarang bahwa manusia mengalami kegembiraan yang luar biasa, oleh karena sebab – sebab tertentu. Tanpa disadari, rasa gembira tersebut mengakibatkan pengemudi menjalankan kendaraan dengan kecepatan yang melebihi kecepatan maksimal. Keadaan lelah, lapar, usia yang sudah mulai tua, obat – obatan dan lain sebagainya, merupakan beberapa faktor yang kemungkinan besar akan dapat mempengaruhi kemampuan untuk mengemudikan kendaraan dengan baik. “Kelelahan fisik dapat mengurangi kemampuan mengemudi, serta konsentrasi yang diperlukan untuk mengemudikan kendaraan dengan baik”.3
Peraturan perundang – undangan yang mengatur masalah lalu lintas dan angkutan jalan raya, tidaklah sepenuhnya sinkron dan ada ketentuan – ketentuan  yang sudah tertinggal oleh perkembangan masyarakat. Namun demikian tidaklah berlebih – lebihan untuk mengemukakan beberapa cara penegakan peraturan lalu lintas yang menurut pengalaman akan lebih efisien. Cara yang lazim disebutkan periodic reinforcement atau partial reinforcement. Cara ini diterapkan apabila terhadap perilaku tertentu, tidak selalu diberi imbalan atau dijatuhi hukuman. Kalau seorang pengemudi sudah terbiasakan menjalani rute jalan raya tertentu, maka ada kecenderungan untuk melebihi kecepatan maksimal. Hal itu disebabkan oleh karena pengemudi menganggap dirinya telah mengenal bagian dari jalan raya tersebut dengan baik. Kalau pada tempat – tempat tertentu dari jalan tersebut ditempatkan petugas patroli jalan raya, maka dia tidak mempunyai kesempatan untuk melanggar batas maksimal kecepatan. Akan tetapi apabila penempatan petugas dilakukan secara tetap, maka pengemudi mengetahui kapan dia harus mematuhi peraturan dan bilamana dia dapat melanggar ketentuan–ketentuan  tersebut. Dengan menerapkan cara periodic reinforcement, maka ingin ditimbulkan kesan pada pengemudi bahwa di mana – mana ada petugas, sehingga dia akan lebih berhati – hati di dalam mengemudikan kendaraannya, kalaupun petugas kadang – kadang ditempatkan di jalan raya tersebut ada kesan bahwa petugas itu selalu ada di situ.
     Cara ini bertujuan untuk menghasilkan pengemudi yang berperilaku baik. Cara kedua biasanya disebut conspicuous enforcement, yang biasanya bertujuan untuk mencegah pengemudi mengendarai kendaraan secara membahayakan. Dengan cara ini dimaksudkan sebagai cara untuk menempatkan mobil polisi atau sarana lainnya secara menyolok, sehingga pengemudi melihatnya  dengan sejelas mungkin. Hal ini biasanya akan dapat mencegah seseorang untuk melanggar peraturan. “Cara ini bertujuan untuk menjaga keselamatan jiwa manusia dan sudah tentu, bahwa kedua cara tersebut memerlukan fasilitas yang cukup dan tenaga manusia yang mampu serta terampil”.4
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka rumusan permasalahannya adalah sebagai berikut :
a.    Bagaimanakah pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak sekolah di Kabupaten Ngawi ?
b.    Bagaimanakah hambatan penerapan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak sekolah di Kabupaten Ngawi ?
2.    Penjelasan Judul
Judul skripsi ini adalah “Tinjauan Hukum Tentang Pelanggaran Lalu Lintas Yang Dilakukan Oleh Anak Sekolah Di Kabupaten Ngawi”. Agar makna judul tersebut dapat dipahami dengan mudah oleh para pembaca, maka perlu dijelaskan sebagai berikut :
a.     Tinjauan Hukum, adalah hasil meninjau peraturan yang secara resmi dianggap mengikat.
b.    Pelanggaran, adalah “perbuatan melanggar atau tindak pidana yang lebih ringan dari pada kejahatan”.5
c.    Lalu Lintas, adalah gerak kendaraan, orang dan hewan di jalan.
d.     Yang Dilakukan Oleh Anak Sekolah, adalah yang diperbuat oleh anak yang masih menuntut ilmu melalui pendidikan sekolah.
e.    Di Kabupaten Ngawi, adalah yaitu wilayah yang daerah hukumnya Kabupaten Ngawi yang menjadi lokasi penelitian ini.
3.    Alasan Pemilihan Judul
        Adapun beberapa hal yang menjadi alasan pemilihan judul dalam skripsi ini adalah sebagai berikut :
a.    Bahwa dengan diundangkannya Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Repubilk Indonesia, yang menegaskan pemisahan kelembagaan antara Tentara Nasional Indonesia dengan Kepolisian Negara Republik Indonesia, maka perlu dilakukan penelitian tentang tugas dan fungsi Kepolisian terutama di bidang penegakan hukum.
b.    Bahwa dengan semakin meningkatnya jumlah  perkara pidana pelanggaran lalu lintas di Kesatuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Ngawi menyebabkan semakin meningkat pula tuntutan dan harapan dari masyarakat terhadap pelaksanaan tugas dari Kepolisian, sehingga menarik untuk diteliti penyebab dan aspek hukumnya.
c.    Bahwa pelaksanaan Undang - Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan menarik untuk diteliti.
d.    Bahwa data-data yang saya butuhkan dalam penelitian ini mudah didapatkan sehingga dapat menghemat biaya dan waktu, karena saya sebagai mahasiswa juga sebagai anggota Polisi pada Kesatuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Ngawi.
4.    Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan skripsi yang hendak dicapai adalah sebagai berikut :
a.    Untuk mengetahui pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak sekolah di Kabupaten Ngawi.
b.    Untuk mengetahui dan memahami tentang hambatan penerapan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak sekolah di Kabupaten Ngawi.
c.    Untuk melengkapi tugas dan memenuhi syarat-syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum Universitas Soerjo Ngawi.
5.     Metodologi
Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.     Pendekatan masalah.
    Pendekatan masalah dalam penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif, yaitu : “pendekatan yang bertitik tolak dari ketentuan peraturan perundang – undangan dan diteliti dilapangan untuk memperoleh faktor pendukung dan hambatannya.”6 Pendekatan yuridis normatif ini merupakan pendekatan dengan berdasarkan norma – norma atau peraturan perundang – undangan yang mengikat serta mempunyai konsekuensi hukum yang jelas.

    Melalui pendekatan yuridis normatif ini diharapkan dapat mengetahui tentang suatu peraturan perundang – undangan yang berlaku, khususnya Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP), Undang – Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana, Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia dapat diterapkan dalam mengkaji dan membahas permasalahan – permasalahan  dalam penelitian ini.
b.     Sumber data.
    Sumber data dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah asal data yang diperoleh langsung dari sumbernya, sedangkan sumber data sekunder adalah asal data yang diperoleh tidak langsung dari sumbernya. Dalam hal ini sumber data primernya adalah Bapak Prayoga Angga selaku Kepala Kesatuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Ngawi, sedangkan sumber data sekundernya adalah berupa berupa buku-buku literatur, peraturan perundang-undangan khususnya Kitab Undang – Undang Hukum Pidana, Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Undang – Undang Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, dokumen putusan Pengadilan Negeri, catatan – catatan yang relevan, koran, majalah dan dokumen serta hasil penelitian yang ada hubungannya dengan permasalahan yang dikemukakan.

c.     Prosedur pengumpulan dan pengolahan data.
    Prosedur pengumpulan data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan dua cara yaitu studi lapangan dan kemudian studi kepustakaan. Studi lapangan dilakukan untuk memperoleh data primer atau data yang langsung dari sumbernya dengan mengadakan wawancara dan observasi. “Wawancara adalah suatu bentuk komunikasi verbal, jadi semacam percakapan yang bertujuan memperoleh informasi. Dalam wawancara ini pertanyaan dan jawaban diberikan secara verbal.”7 Wawancara saya lakukan dengan dengan Bapak Prayoga Angga selaku Kepala Kesatuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Ngawi. Sedangkan untuk observasi atau pengamatan, saya melakukan pengamatan langsung di lokasi penelitian di Kesatuan Lalu Lintas Kepolisian Resor Ngawi dengan membuat catatan dari hasil pengamatan secara sistematis tentang relativitas pelanggaran lalu lintas. Kemudian studi kepustakaan saya berusaha untuk mendapatkan data sekunder atau data yang tidak langsung dari sumbernya dengan metode dokumenter, yaitu dengan cara membaca dan menelaah buku-buku literatur, peraturan perundang-undangan terutama Kitab Undang – Undang Hukum Pidana (KUHP), Undang – Undang  Nomor 8 Tahun 1981 tentang Undang – Undang Hukum Acara Pidana, Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan dan Undang – Undang  Nomor 2 Tahun 2002 tentang Kepolisian Negara Republik Indonesia, catatan kuliah, dokumen serta hasil penelitian yang ada hubungannya dengan judul skripsi ini.
    Selanjutnya dari data yang terkumpul tersebut masih merupakan bahan mentah maka hal itu perlu diolah. “Pengolahan data adalah kegiatan merapikan hasil pengumpulan data di lapangan sehingga siap pakai untuk dianalisis.”8 Prosedur pengolahan data dimulai dengan memeriksa data secara korelatif yaitu yang hubungannya antara gejala yang satu dengan yang lain, sehingga tersusunlah karya yang sistematis.
d.     Analisis data.
        Analisis data adalah proses menafsirkan atau memaknai suatu data.“Analisis data sebagai tindak lanjut proses pengolahan data merupakan pekerjaan seorang peneliti yang memerlukan ketelitian, dan pencurahan daya pikir secara optimal, dan secara nyata kemampuan metodologis peneliti diuji.”9 Hasil analisis ini diharapkan dapat digunakan untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan dalam skripsi ini dan akhirnya dapat digunakan untuk menarik suatu kesimpulan serta memberikan saran seperlunya. Adapun analisis data yang saya lakukan adalah menggunakan metode analisis deskriptif kualitatif, yaitu menggambarkan secara lengkap kualitas dan karateristik dari data-data yang sudah terkumpul dan sudah dilakukan pengolahan, kemudian dibuat kesimpulan.

6.    Pertanggungjawaban Sistematika
    Sistematika penulisan skripsi ini pendahuluan saya tempatkan pada bab I, karena sebelum sampai pada pembahasan materi-materi pokok perlu terdapat bab yang mendahuluinya. Bab I pendahuluan ini terbagi menjadi enam sub bab, yaitu permasalahan : latar belakang dan rumusannya, penjelasan judul, alasan pemilihan judul, tujuan penulisan, kemudian metodologi dan yang terakhir pertanggungjawaban sistematika.
    Kemudian bab II membahas tentang pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak sekolah di Kabupaten Ngawi. Bab II ini terdiri atas tiga sub bab, yaitu pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak sekolah, faktor – faktor penyebab terjadinya pelanggaran lalu lintas yang dilakukan anak sekolah, dan upaya penanggulangan pelanggaran lalu lintas yang dilakukan anak sekolah.
    Selanjutnya bab III membahas tentang hambatan penerapan hukum terhadap pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak sekolah di Kabupaten Ngawi. Dalam bab III ini terdapat tiga sub bab, yaitu penerapan hukum pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak sekolah menurut Undang – Undang Nomor 22 Tahun 2009, faktor pendukung penerapan hukum pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak sekolah dan  hambatan penerapan hukum pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh anak sekolah.
    Bab IV adalah penutup, karena akhir dari pembahasan materi-materi pokok perlu ada bab penutup. Dalam bab IV ini terdapat dua sub bab, yaitu kesimpulan dan saran.

* Download Bab I
* Download Bab II
* Download Bab III
* Download Bab IV
* Download Daftar Bacaan

No comments:

Post a Comment

Artikel dari Naruto vs Onepiece

free counters